Tampilkan postingan dengan label I Must Change First. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I Must Change First. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2018

Games Level 10 #10

Terima Kasih

Saat makan bersama adalah saat-saat yang paling menggembirakan untuk anak-anak. Mereka akan  melepas lapar dan dahaga, juga saling berbagi makanan. Mereka akan rela memberikan semua permen atau kue kepada salah seorang teman, namun terkadang mereka juga tidak mau memberi makanan karena sedang merasa jengkel atau marah kepada temannya tersebut. Ada-ada saja memang tingkah anak-anak murid saya ini.
Awalnya mereka hanya tersenyum gembira tanpa mengucapkan "terima kasih" saat diberi makanan oleh temannya. Akhirnya "PR" saya bertambah, yaitu mengajarkan anak-anak untuk mengucapkan "terima kasih" saat mendapatkan suatu pemberian atau hadiah dari orang lain.
Biasanya saya akan langsung bertanya kepada anak yang baru saja mendapatkan makanan dari temannya, "ayo bilang apa sama temannya? kan sudah di kasih kue". Biasanya si anak akan sedikit bengong lalu mengucapkan terima kasih dengan ekspresi malu-malu. Selesai makan pagi, saya mengajak anak-anak untuk mendengarkan cerita. Tentu cerita karangan saya sendiri tentang ucapan terima kasih jika kita diberi sesuatu oleh orang lain.
Kali ini tidak cukup sulit bagi saya untuk menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya ucapan "terima kasih. Mereka langsung paham dan mempraktekkannya di setiap kesempatan saat mereka mendapatkan sesuatu yang membuat hati mereka gembira.

Sabtu, 02 Desember 2017

Matematika di Sekitarku #10

Reuni 212
Hari ini saya baru saja pulang dari acara Reuni 212 di Monas, Jakarta. Ketika ada informasi acara tersebut, sempat terbersit keinginan untuk dapat berpartisipasi secara langsung. Namun karena kondisi saya yang belum gajian, maka saya hanya memendam keinginan tersebut dan tidak mencari informasi lain mengenai siapa0siapa saja yang berencana untuk berangkat. Padahal Jumat hingga besok Ahad adalah long weekend, saya tidak memiliki rencana berarti yang bisa saya lakukan untuk mengisi liburan panjang ini. Ya sudah, saya pasrah.
Namun tidak saya sangka, secara mendadak saya mendapatkan pesan melalui WA dari salah satu adik tingkat saya ketika kuliah, ia mengajak saya untuk mengiktui Reuni 212. Ia berkata “hayu the Alhamdulillah aku lagi ada rejeki”. Ya sudah, saya pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Jumat sore selepas magrib saya berangkat menuju terminal Kampung Rambutan untuk bertemu dengan teman saya tersebut. Alhmadulillah setelah sekian bulan tidak bertemu akhrinya saya bisa meleas rindu dan bisa bersama-sama mengikuti momen bersejarah, Reuni 212.
Matematika Versi Alloh
Secara rasional, mana bisa saya pergi ke Monas dalam keadaan tidak memegang uang sama sekali. Tapi ternyata saya sedikit lupa bahwa Alloh Maha Kaya. Baru saja saya merasakan pengalaman yang berkaitan dengan matematika, tapi matematika versi Alloh.
Alloh Maha Luar Biasa, dari mulai ongkos sampai konsumsi saya selama mengiktui Reuni 212 ya Alloh yang mengatur. Alhamdulillah. Saya benar-benar tersadar bahwa kita tidak bisa menghitung secara logika hal-hal yang berkaitan dengan usaha dalam menolong jalan Alloh. Ternyata kita akan dengan mudahnya mendapatkan pertolongan yang tak disangka-sangka datangnya.
Jika harus menghitung berapa besar uang yang harus saya siapkan dari mulai ongkos angkot dan bus way dari Cibubur hingga ke Istiqlal? Belum untuk makan dan jajan. Hehe
Semoga dengan kesempatan mengikuti Reuni 212 ini, saya akan selalu mendapatkan hidayah-Nya dalam setiap jejak langkah saya untuk menjalani kehidupan. Semoga


Jumat, 01 Desember 2017

Matematika di Sekitarku #9

Belanja Mingguan
Ada hal yang membuat saya senang ketika saya harus tinggal di asrama sambil mengajar TK. Beberapa tugas domestic yang harus saya kerjakan secara tidak langsung membuat saya terlatih untuk terbiasa melakukannya, seperti belanja ke pasar setiap minggu dan memasak makanan.
Saya tinggal bersama ibu ketua yayasan. Beliau akan membekali saya Rp300 ribu. Uang tersebut harus cukup untuk membeli persediaan makanan selama seminggu untuk 7 orang. Daftar belanjaan yang wajib dibeli yaitu beras, daging ayam, ikan mas, minyak goreng, sayuran, dan telur. Semua bahan makanan tersebut menghabiskan sekitar Rp200rb. Jadi masih ada sisa uang Rp100ribu yang harus saya belanjakan, syukur-syukur jika uang tersebut ada sisa dan semua daftar belanjaan terpenuhi.
Tempe, tahu, kecap, bumbu dapur, the, dan gula menjadi sasaran saya selanjutnya. Pada saat itu saya berpikir semua kebutuhan sudah terpenuhi, hingga saya tiba kembali di asrama dan saya baru menyadari bahwa saya melupakan 1 barang: sabun cuci piring! Baiklah, manusia tidak luput dari lupa, hehe -_-


Kamis, 30 November 2017

Matematika di Sekitarku #8

Mengatur Waktu
Kegiatan rutin saya setiap pagi usai shalat subuh adalah piket, mandi, kemudian sarapan. Jika ada beberapa media pembelajaran yang kurang, saya akan segera melengkapinya, maksimal semua harus sudah siap sebelum pukul setengah 8. Kegiatan belajar mengajar memang dimulai pukul 8, tapi biasanya sudah ada anak yang datang sebelum pukul 7.
Mengatur waktu merupakan bagian dari aktivitas saya yang berkaitan dengan matematika. Bahkan saat ini sering sekali waktu luang saya belum bisa saya manfaatkan dengan baik. Tapi untuk urusan mengajar, sebisa mungkin saya prioritaskan untuk tidak ditunda. Contohnya seperti pagi tadi, kegiatan saya bersama anak-anak adalah melukis. Sore hari kemarin, saya sudah menyiapkan cat warna serta kuas. Namun untuk kertas baru saya siapkan pagi hari. Nah, itu pun saya masih harus tergesa-gesa untuk membuat sketsa gambar pada kerta satu per satu. Ada saja alasan saya untuk menunda.
Sebenarnya saya sedang sangat berusaha membiasakan hidup disiplin. Saya ingin menjadi orang yang pandai membagi dan mengurangi waktu. Membagi waktu untuk ibadah, belajar, menambah jam terbang, dan mengisi waktu luang. Serta mengurangi waktu untuk berleha-leha dan menuruti rasa malas. Semoga saya bisa dan terus semangat. Aamiin

Sekian

Jumat, 03 November 2017

Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca10

Saat ini saya sangat menyukai akhir pekan. Sabtu dan Ahad adalah dua hari yang bisa saya gunakan secara total untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Meskipun di pagi hari saya hari mengurus keperluan pribadi seperti memncuci, menyetrika, dan memasak serta membersihkan rumah, namun saya tetap bersemangat untuk melakukan hal-hal produktif lainnya, seperti membaca buku. Pada hari Sabtu, saya dapat menggunakan waktu  saya dari mulai pukul 12 siang hingga pukul 5 sore untuk membaca, menulis, atau menonton video aneka kreasi yang bermanfaat. Sedangkan pada hari Ahad, saya bisa mulai membaca di dalam angkot dari mulai pukul 7 pagi hingga pukul 9, dan lanjut lagi dari pukul 1 siang hingga pukul 3 sore. Ya, karena setiap hari Ahad saya harus menempuh perjalanan dari Cibubur,Kab. Bogor ke Jatiwaringin, Bekasi untuk belajar bahasa Turki. Nah, hari ini saya akan merampungkan tugas saya di games level 5, ya meskipun bacaan yang sedang saya baca belum rampung seutuhnya. Saya sadar harus lebih rajin lagi, hiks. 
Oke, saat ini bagian yang baru saja saya selesaikan ialah tentang kedisiplinan. "Sedikit Demi Sedikit Disiplin Kian Membukit", begitulah kalimat utama yang mengawali pembahasan kedua dalam bagian keenam buku "Mendidik dengan Cinta". Dalam pemaparan yang disampaikan, terdapat tips yang bisa diterapkan orang tua dalam melatih kedisplinan anak sejak bayi. Misalnya seperti ini:
  • Usia 1-2 tahun, anak dilatih untuk teratur dalam jadwal tidur.
  • Usia 2-3 tahun displin toilet training.
  • Usia 3-4 tahun disiplin menggosok gigi.
  • Usia 4-5 tahun, anak dilatih untuk menyiapkan keperluannya sebelum berangkat sekolah.
  • Usia 5-6 tahun, pengenalan jadwal belajar, minimal 1 jam setiap malam.
Saya sangat tertarik ketika mengetahui tips yang dipaparkan lebih lengkap daripada poin-poin yang saya tuliskan diatas, untuk lebih lanjut silahkan dibaca ya buku yang sangat saya rekomendasikan bagi calon atau yang sudah menjadi orang tua. Karena kita disadarkan betul bahwa kedisplinan bukan sekedar peraturan dan sanksi, namun kedisiplinan ialah keteraturan yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, yang cakupannya begitu luas. Dan seluas itu pulalah yang harus kita perkenalkan kepada anak-anak sejak dini. Semoga bermanfaat...



Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca9

Saya menyadari betul bahwa tugas sebagai orang tua tidaklah mudah. Ada banyak tanggung jawab yang harus dilaksanakan dalam rangka mendidik kemandirian anak. Sedikit demi sedikit saya belajar tentang hal tersebut, dan lingkup kecilnya dapat saya praktekkan saat saya mengajar di TK. Alhamdulillah, saya berada dalam posisi 'telah dikenalkan' dengan konsep mendidik anak secara Islami sebelum saya menikah. Semoga kelak saya tidak salah langkah. Dan PR besar bagi saya adalah menerapkan ilmu yang saat ini terus saya pelajari untuk diterapkan di masa yang akan datang. Aamiin...
Kemandirian anak berkaitan dengan kepribadian. Dan aktivitas membaca saya kali ini memasuki bagian keenam, yaitu tentang pembentukan kepribadian. Terdapat 9 sub bagian yang harus saya baca. Sub pertama ialah "Hindarkan Anak dari Sifat Penakut".
Dituliskan bahwa anak ideal ialah anak yang kuat, pintar, pemberani, dan bertakqa kepada Allah SWT. Inti dari pemaparan sub bab kali ini ialah tentang bagaimana kita sebagai orang tua tidak boleh luput dalam melatih fisik dan mental anak. Bagaimana anak harus diberikan latihan fisik berupa permainan yang telah popular digaungkan oleh Rasulullah, yaitu berenang, berkuda, dan memanah. Orang tua juga tidak boleh absen saat menemani anak bermain, karena hal tersebut yang menjadi salah satu kekuatan bagi anak. Dimana anak akan merasa lebih dekat dan kuat ikatan batinnya dengan orang tua, sehingga apa yang diajarkan oleh orang tua akan lebih mudah diingat oleh anak.
Disebutkan beberapa hal yang harus diberikan kepada anak untuk melatih keberaniannya, yaitu sebagai berikut:
1.      Olahraga dan permainan fisik
2.    Penyembelihan hewan Qurban
3.   Khitan di usia anak-anak
4.   Penanaman kisah-kisah kepahlawanan
5.    Aktivitas yang menantang
Semoga bermanfaat



Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca8

Menghela nafas panjang usai anak-anak pulang dari sekolah merupakan kegiatan rutin bagi saya. Biasanya saya akan membereskan karpet dan menyapu lantai serta menutup pintu garasi saat suasana sekolah telah sepi. Beranjak mengambil bantal dan merebahkan badan menjadi rutinitas yang biasa saya lakukan setelah semua tugas saya selesai. Cukup dengan 15 menit tubuh kembali segar dan siap untuk melanjutkan aktivitas, salah satunya mengerjakan gamel level 5 di kelas "Bunda Sayang" ini.

"Nama anak, bukan asal lucu. Karena memberi nama adalah pekerjaan serius."
Begitulah kalimat pertama yang saya baca pada halaman 191 dalam buku "Mendidik dengan Cinta". Kita sering mendengar istilah what's in a name, namun hal tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Dalam perspektif Islam, nama tidak bisa dianggap hal sepele. Di halaman selanjutnya dijelaskan bahwa terdapat tuntunan-tuntunan Islam dalam pemeberian nama, diantaranya:

  1. Pilih yang baik
  2. Jauhi yang dapat mengotori kehormatan
  3. Jauhi yang bermakna pesimistis
  4. Jauhi makna optimistis
  5. Menjauhi penyamaan nama Alloh
Kelima poin diatas dirunut berdasarkan hadits, salah satunya yakni sebagai berikut:
"Ambillah nama-nama kamu sekalian dari nama para nabi. Nama-nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama-nama yang paling benar adalah Harits dan Hamam. Sedangkan yang paling jelek adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit)" (H.r. Abu Dawud, Nasa'i, dan Darimi)

Kamis, 02 November 2017

Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca7

Tema bacaan saya kali ini yaitu tentang jadwal tidur. Sejak saya mulai mengingat hingga saat ini, saya belum pernah mendapat kesempatan untuk menidurkan anak-anak. Ya, selain karena saya belum menikah dan belum memiliki anak, saya juga tidak memiliki keponakan atau sepupu yang bisa saya asuh atau hanya sekedar membuatnya tetridur. Pernah sih, tapi itu hanya satu kali dan usianya masih sangat bayi sehingga ia belum bisa mengenali yang mana ibunya dan mana yang bukan. Ketika saya menggendong dan mengayun-ayunkan tubuhnya dengan lembut, adik bayi yang masih kerabat saya itu pun akhirnya tertidur. Bagi saya hal itu tidak terlalu menantang jika dibandingkan dengan kisah ilustrasi yang saya baca dalam buku "Mendidik dengan Cinta".
Saya turut membayangkan dari ilustrasi cerita dalam buku tersebut, bagaimana repotnya seorang ibu yang kesulitan menyuruh anaknya tidur. Singkat cerita saya dibuat tersadar akan penyebab yang sumbernya ternyata dari para orang tua itu sendiri, salah satunya ialah orang tua yang terus asyik dengan aktivitasnya, misal menonton TV atau menyelesaikan tugas rumah/kantor, sedangkan anak hanya mendapatkan perintah untuk tidur. Ya, hanya perintah.
Mungkin sebagian besar orang tua mengalami hal ini, mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri tanpa berusaha peduli terhadap perasaan anaknya. Mungkin anak-anak yang sulit untuk tidur tepat waktu diakibatkan oleh suasana rumah yang tidak kondusif. 
Dipaparkan dalam buku tersebut, bahwa anak-anak memerlukan kondisi yang tenang agar bisa tidur. Jika TV masih menyala, ibu masih sibuk menggendong adik, dan ayah masih belum selesai dengan tugas kantor, maka dapat dipastikan sang anak tidak ingin buru-buru tidur. "Bukankah bermain bagi mereka adalah segalanya?" (hal. 174).
Berikut ini saya tulis tips dalam mengatasi masalah anak yang sulit tidur, lebih lengkapnya silahkan baca bukunya ya...
1.    Ciptakan ketenangan
2.    Hentikan dengan kasih sayang
3.    Kegiatan santai
4.    Mengatur pola tidur
To be continue...


Rabu, 01 November 2017

Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca5

Masih dengan aktivitas membaca untuk diri sendiri yang merupakan tantangan games level 5 kelas "Bunda Sayang". Kali ini sampai di bagian sub bab selanjutnya, yaitu pemaparan terkait tips mengatasi kebosanan yang sering dialami anak. Sayangnya hal ini juga sering tidak disadari oleh orang tua. Saya memang belum memiliki anak, namun aktivitas saya yang selalu tidak jauh dari anak-anak membuat saya tersadar bahwa memang betul, tingkah polah anak-anak yang rewel saya akui karena mereka sebenarnya bosan, tak tahu aktivitas apalagi yang harus mereka lakukan.
Dari buku "Mendidik dengan Cinta", saya tersadar bahwa orang tua atau guru TK benar -benar dituntut untuk ekstra sabar. Dengan kondisi yang terlatih untuk bersabar tentunya kita--sebagai seorang ibu--akan mampu berpikir jernih saat menghadapi masalah-masalah yang muncul saat anak tiba-tiba rewel, apalagi bagi seorang ibu yang memiliki anak kecil yang usianya balita dan batita. Emosi kita akan cenderung lebih sering marah ketika kondisi fisik dalam keadaan lelah dan adanya tuntutan untuk memberikan perhatian lebih pada si sulung. Pun sama yang saya alami sebagai guru TK. Ada beberapa anak yang menurut saya mereka sangat cerdas, secara tidak langsung mereka menuntut saya untuk memberikan kegiatan yang lebih menyenangkan, menantang, dan sesuatu hal yang baru. Namun usaha yang bisa saya lakukan belum bisa maksimal karena kapasitas saya sebagai guru TK yang harus memberikan perhatian kepada 10 anak sekaligus dalam satu kelas. Tak jarang si anak cerdas ini ngambek dan akhirnya tidak mengikuti aktivitas belajar untuk beberapa saat.
Sejak membaca hal ini, saya tersadar tentang apa yang sebenarnya mereka--murid-murid saya--rasakan. Bismillah... semangat menambah jam terbang! Ganbatte!

Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca4


Masih tentang Ragam Dunia Anak yang merupakan bab ke 5 dalam buku "Mendidik dengan Cinta". Kali ini saya mencoba untuk membaca serta membuat gambaran terkait sub bagian ke-5 ini, yaitu tentang pola jajan sehat. Sebelumnya wawasan saya terbuka saat mengikuti salah satu seminar pakar parenting kenamaan, beliau membahas tentang pentingnya pola jajan yang sehat bagi anak. Tak hanya itu, dijelaskan bagaimana kita sebagai orang tua seharusnya memiliki aturan yang jelas terkait jadwal jajan anak-anak dan jumlah rupiah yang juga harus diatur oleh orang tua.
Hampir serupa, dalam buku ini dijelaskan juga bahwa orang tua harus ekstra sabar memberikan pengertian kepada anak bahwa tidak semua hal yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan, ya, terkait jajan ini, tidak semua jajanan bisa mereka beli. Maraknya jajanan yang mengandung bahan kimia berbahaya praktis membuat orang tua khawatir. Dalam hal ini tentunya orang tua, khususnya ibu dituntut untuk mampu menciptakan kreasi jajanan sehat dan menarik untuk anak.
Tak hanya itu, saya teringat dalam salah satu tema mastermind di kelas "Bunda Sayang" beberapa waktu lalu yang menyinggung tentang kemampuan anaknya dalam memilah kemasan jajanannya sendiri, terdapat label halal atau tidak. Bahkan karena begitu selektifnya, anak tersebut tidak mau memakan abon buatan rumah yang tidak terdapat label halal dalam kemasannya. Saya juga teringat rekan se-profesi saya saat beliau mengajarkan bagaimana caranya membeli jajanan yang baik untuk anak-anak. Anak-anak diberitahu seperti apa label halal, dan sang guru mengajarkan anak-anak untuk tidak membeli makanan yang tidak ada label halalnya.
Nah, kali ini saya merasa memiliki PR besar untuk turut menerapkan pada anak didik saya terkait label halal pada jajanan ini. Saya sudah mengetahui ilmunya, dan saya akan berusaha untuk mengaplikasikannya. Bismillah...

Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca3


Masih dengan buku yang sama, "Mendidik dengan Cinta". Saya mencoba konsisten membaca dan mengumpulkan tugas di kelas 'Bunda Sayang', meskipun sudah 2 hari ini kesehatan saya terganggu. Saya terserang demam yang diakibatkan oleh radang telinga. Saya masih bisa memaksakan diri untuk mengajar anak-anak di TK seperti biasa, namun ketika usai jam sekolah, badan tak bisa diajak kompromi. Meriang bisa datang dan pergi sesuka hati, jadi waktu luang yang ada hanya bisa saya gunakan untuk berbaring. Tak mampu lagi saya membaca buku, karena untuk mencerna satu paragraf dengan posisi fokus pada buku cukup menguras tenaga pada saat kondisi seperti itu.
Bagian ke-5 dengan tema "Ragam Dunia Anak" menjadi cemilan yang menemani saya untuk terus belajar, bagaimanapun kondisinya. Terdapat 6 poin pembahasan yang uraiannya tidak lebih dari 8 halaman.
Bohong atau Khayal? menjadi poin pertama yang saya cerna perlahan. Sebagai pembelajar yang sudah mencapai usia 24 tahun, saya membaca paragraf demi paragraf uraian tersebut dengan membayangkan posisi saya sebagaimana anak-anak yang sedang mengalami fase perkembangan tersebut. Dipaparkan bahwa anak-anak memang memiliki karakter haus akan pujian, jadi tak heran bila mereka berbohong hanya untuk mendapatkan pujian. Masih dalam batas yang wajar bila hal tersebut dilakukan oleh anak-anak saat fase perkembangannya, namun kita sebagai orang tua tidak boleh luput untuk terus memberikan pengarahan dan bimbingan. Anak-anak perlu mengetahui bahwa pada dasarnya berkata atau berbuat jujur itu lebih terpuji.
Dalam hal ini saya juga kembali tersadarkan bahwa orang tua juga berperan penting sebagai teladan dalam memberikan contoh yang baik kepada anak-anak di rumah. Ketika orang tua bersikap jujur kepada setiap anggota keluarga atau kepada orang lain, maka anak akan menilai dan meniru hal tersebut.
Selain itu, dipaparkan pula tentang dunia khayal yang sering terjadi pada anak. Ya, tak jarang mereka berimajinasi. Anak-anak mampu bercerita kepada orang tua atau teman-temannya tentang hal-hal yang mereka khayalkan. Peran orang tua disini ialah melatih anak agar mampu membedakan mana imajinasi dan mana hal yang sebenarnya.

Minggu, 29 Oktober 2017

Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca2


Awalnya saya bertekad untuk menyisihkan waktu 15 menit untuk membaca usai mengajar. Alasannya selain tidak ingin menunda, suasana malam hari di asrama yang saya tempati tidak terlalu mendukung untuk aktivitas membaca di malam hari. Awalnya tempat favorit saya di garasi, karena lampunya lebih terang dibanding lampu yang terpasang di kamar saya. Namun hampir seminggu lebih lampu di garasi mati dan belum diganti. Alhasil hal tersebut menambah rasa malas saya untuk merampungkan buku yang saya baca.
"Mendidik dengan Cinta" adalah judul buku yang sedang saya kunyah secara perlahan. Bahasanya memang mudah dicerna, namun membacanya perlu ketelitian. Bagi saya, dengan membaca secara teliti buku tersebut, saya semakin mudah memahami poin-poin apa saja yang dipaparkan.
Sejak dimulainya tantangan games leve 5 kelas "Bunda Sayang" ini, saya telah melahap kurang lebih setengah bagian dari buku tersebut. Buku "Mendidik dengan Cinta" memiliki 9 bagian. Games level 5 ini berhasil mengambil bagian sebagai media untuk mendokumentasikan bagian ke-4 yang sedang saya baca. Sub bagian yang berjudul 'Mengelola Area Konflik' ialah bahasan yang sedang saya cerna secara perlahan. Inti yang disampaikan ialah terkait kebiasaan anak-anak yang tak jarang membuat ulah dengan berkelahi sesama teman. Dari buku tersebut baru saya ketahui ternyata hal itu merupakan hal yang wajar. Setiap anak memiliki fase perkembangan khusus yang berkaitan dengan konflik anak seusianya. Didalam buku tersebut dibahas beberapa tips bagi kita selaku orang tua ketika menghadapi kondisi anak yang sedang menjalani fase tersebut.

Semoga bermanfaat...

Games Level 5 Kelas "Bunda Sayang" IIP Banten #membaca1

Membaca merupakan aktivitas yang saya sukai sejak kecil. Berawal dari sebuah majalah anak-anak yang dihadiahkan tante kepada saya. Meski tak berlangganan, tapi hingga tamat SD saya terbilang sering membeli atau menerima majalah tersebut sebagai hadiah dari om dan istrinya. Total hingga saat ini di kamar saya ada setumpuk kecil majalah yang terkenal di kalangan anak Indonesia itu. Beranjak SMP, om saya dan istrinya masih menjejali saya dengan majalah. Tentunya bukan majalah anak-anak lagi, tapi majalah khusus untuk cewek-cewek yang baru gede. Majalah itu dikirimkan 2 minggu sekali dari Jakarta ke sekolah SMP saya. Namun akhirnya saya meminta om saya untuk menghentikan pemberiannya itu. Saya tidak ingin membebankan om saya dan istrinya. Membeli majalah dan mengirimkannya dari Jakarta ke Kuningan tentulah memerlukan biaya. Pada saat itu om saya juga memberikan saya pulsa setiap bulannya agar keluarga di Kuningan dapat berkomunikasi dengan om saya yang berada di Jakarta. Tak ingin menambah beban pengeluaran om saya, maka saya putuskan untuk memilih salah satu dari kedua pemberian tersebut. Saya berpikir bahwa untuk membaca saya masih bisa meminjam buku ke perpustakaan di sekolah. Kebetulan perpustakaan di SMP saya terbilang bagus. Koleksi bukunya banyak, manajemen peminjaman bukunya juga teratur dan mudah, ya meskipun ruang baca yang tersedia tidak terlalu nyaman. Untuk hal tersebut saya menyiasatinya dengan membaca buku-buku yang saya pinjam di rumah. Alhasil selama 3 tahun di SMP, saya tak pernah membiarkan kartu saya "nganggur". Selesai meminjam, saya akan kembali ke kelas dengan 1 atau 2 buku baru yang akan saya pinjam lagi. Sampai-sampai dari sekian banyak siswa di SMP saya itu, ibu penjaga perpus mungkin hanya hafal dengan wajah dan nama saya saja, karena foto dan nama saya selalu terngiang di hadapannya hampir setiap 2 atau 3 hari sekali. Wkwk

Membaca juga menjadi tema games level 5 di kelas "Bunda Sayang" kali ini. Tidak sekedar membaca, namun selesai membaca kita diminta untuk membuat narasi yang berisikan cerita terkait aktivitas membaca yang telah kita lakukan. Tantangan harus dilakukan bersama keluarga, BAGI YANG SUDAH BERKELUARGA. Haha. Berhubung saya belum menikah, maka saya hanya perlu melakukan aktivitas membaca untuk diri saya sendiri secara konsisten setiap harinya, minimal 15 menit. Kemudian seperti biasa, saya harus membuat dokumentasi berupa foto dan narasi.

Meski membaca adalah hal yang menyenangkan bagi saya, tapi saya masih sering menuruti rasa malas yang datang ketika tubuh saya merasa lelah atau pikiran saya sedang tidak rileks. Saya juga kesulitan untuk mendisiplinkan diri saya sendiri terkait jadwal membaca dan target bacaan yang harus saya selesaikan. Bahkan kisah nabi yang harusnya saya rampungkan dalam 1 malam untuk kemudian besoknya saya ceritakan kembali kepada murid-murid saya saja terkadang tidak saya selesaikan karena saya menunda-nunda dan akhirnya lupa. Meskipun begitu, saya selalu berusaha membekali diri saya dengan 1 atau 2 buku, minimal dalam rentang waktu 3 bulan buku-buku tersebut sudah habis saya lahap.

Di hari pertama tantangan kali ini, saya ingin mendokumentasikan aktivitas saya saat membaca buku kisah-kisah nabi untuk anak. Saya membaca satu per satu kisah-kisah nabi itu untuk saya ceritakan kembali kepada murid-murid saya yang masih Kober dan TK A. Terkadang mereka antusias, namun tak jarang mereka tidak konsentrasi mendengarkan cerita yang saya bawakan meskipun sudah saya percepat durasinya seperti apa yang dikatakan Kak Wawan, saya sudah memberi tepuk-tepuk agar konsentrasinya terkumpul lagi ala Pak Dodik, tapi tetap saja. Wkwk




Kisah tentang nabi Yusuf alaihis salam menjadi kisah pembuka di tantangan kali ini. Kisah-kisah nabi sebelumnya telah rampung saya baca dan saya ceritakan kepada murid-murid saya. Didalam buku tersebut, kisah nabi Yusuf alaihis salam terdiri atas 2 bagian. Bagian yang sudah saya baca adalah bagian pertama yang menceritakan kehidupan nabi Yusuf kecil yang hidup bersama 11 saudaranya hingga akhirnya beliau dibuang ke sumur dan ditemukan oleh sekelompok orang yang hendak menimba air. Semoga besok anak-anak dikelasku antusias mendengarkan kembali kisah nabi yang sudah hampir 2 minggu tidak aku ceritakan. Ganbatte!